Banyak pihak rumah sakit memahami bahwa mereka “wajib punya SIMRS”, tapi belum tentu memahami bagaimana data pasien sebenarnya mengalir di dalam sistem tersebut. Padahal, memahami alur kerja SIMRS penting bagi manajer RS dan tim IT sebelum menentukan spesifikasi sistem yang akan diimplementasikan atau dievaluasi.
Artikel ini membahas cara kerja SIMRS secara bertahap — mulai dari pasien mendaftar hingga menyelesaikan pembayaran di kasir — beserta modul-modul yang terlibat di setiap tahapnya.
Gambaran Umum: SIMRS sebagai Sistem Saraf Rumah Sakit
Jika rumah sakit diibaratkan sebagai tubuh, SIMRS adalah sistem saraf pusatnya. Setiap data yang diinput satu kali di satu titik — misalnya di pendaftaran — akan mengalir secara otomatis ke unit-unit berikutnya: dokter di poliklinik, apoteker di farmasi, hingga petugas kasir, tanpa perlu input ulang secara manual.
Kekuatan SIMRS bukan hanya terletak pada masing-masing modul, melainkan pada bagaimana seluruh modul tersebut saling terintegrasi dan “berbicara” satu sama lain secara real-time.
Tahap 1 — Pendaftaran Pasien (Modul Front Office)
Alur dimulai ketika pasien mendaftar, baik untuk rawat jalan, IGD, maupun rawat inap. Pada tahap ini, SIMRS mencatat:
- Identitas pasien baru atau verifikasi data pasien lama
- Nomor rekam medis
- Cara pembayaran (umum, BPJS, atau asuransi lain)
- Pencetakan kartu berobat dan nomor antrean
- Untuk peserta BPJS, sistem juga mencetak Surat Eligibilitas Pasien (SEP) sebagai syarat klaim
Modul pendaftaran ini menjadi fondasi seluruh alur berikutnya — begitu data pasien masuk, unit lain sudah bisa langsung mengaksesnya tanpa perlu input ulang.
Tahap 2 — Pelayanan Medis (Rawat Jalan, IGD, atau Rawat Inap)
Setelah terdaftar, pasien menuju unit pelayanan sesuai kebutuhan:
Rawat jalan: dokter mencatat hasil pemeriksaan, diagnosis, dan tindakan langsung ke rekam medis elektronik (RME) yang terhubung dengan SIMRS.
IGD: sistem mencatat proses triase, tindakan medis darurat, hingga keputusan rujukan atau rawat inap.
Rawat inap: SIMRS memantau status kamar secara real-time, mencatat DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien), tindakan medis, hingga perpindahan bed pasien.
Seluruh pencatatan ini otomatis tersimpan sebagai riwayat rekam medis digital yang bisa diakses tenaga medis berwenang kapan saja.
Tahap 3 — Pelayanan Penunjang
Jika pasien memerlukan pemeriksaan tambahan, SIMRS terhubung ke modul pelayanan penunjang seperti:
- Laboratorium — permintaan, hasil, dan distribusi data pemeriksaan (darah, urin, dll.), umumnya terintegrasi dengan Laboratory Information System (LIS)
- Radiologi — permintaan dan hasil pemeriksaan pencitraan (X-ray, CT-Scan, USG), biasanya terhubung dengan PACS (Picture Archiving and Communication System)
- Farmasi — resep elektronik yang otomatis terkirim dari dokter, lalu diproses menjadi distribusi obat ke pasien
Hasil dari setiap pemeriksaan penunjang ini kembali masuk ke rekam medis pasien, sehingga dokter dapat langsung melihatnya tanpa menunggu laporan fisik.
Tahap 4 — Pencatatan Diagnosis dan Rekam Medis
Setiap tindakan dan hasil pemeriksaan yang sudah dicatat kemudian dirangkum menjadi diagnosis akhir. Pada tahap ini, SIMRS juga menghasilkan berbagai laporan otomatis seperti laporan kunjungan, laporan indikator rumah sakit, hingga laporan arus pasien — yang berguna bagi manajemen untuk evaluasi kinerja.
Bagi rumah sakit yang sudah terintegrasi dengan SatuSehat, data diagnosis ini juga dikirimkan secara terstandarisasi (format HL7 FHIR) ke platform Kemenkes sebagai bagian dari kewajiban pelaporan nasional.
Tahap 5 — Billing dan Pembayaran (Modul Kasir)
Setelah seluruh pelayanan selesai, data biaya dari setiap unit — pemeriksaan dokter, tindakan medis, obat, hingga pelayanan penunjang — otomatis terkumpul di modul billing. Pada tahap ini SIMRS menjalankan:
- Rekap tagihan dari seluruh unit yang telah dilalui pasien
- Penggabungan billing untuk pasien rawat inap
- Untuk pasien BPJS, sistem memverifikasi kepesertaan dan memproses klaim yang terhubung ke sistem BPJS Kesehatan
- Pencatatan metode pembayaran (tunai, non-tunai, atau asuransi) dan pencetakan kuitansi
- Laporan arus kas dan tutup buku kasir di akhir shift
Setelah tagihan diselesaikan di kasir, proses pelayanan pasien di SIMRS dinyatakan selesai.
Kenapa Alur yang Terintegrasi Ini Penting?
Tanpa integrasi yang baik antar-modul, dampaknya bisa terasa langsung di lapangan: data pasien berisiko hilang atau tidak sinkron, antrean menumpuk karena input berulang, dan proses klaim BPJS bisa tertunda karena data rekam medis tidak konsisten dengan data billing.
Sebaliknya, SIMRS yang alurnya terintegrasi dengan baik akan mempercepat waktu tunggu pasien, mengurangi kesalahan administratif, serta mempermudah proses klaim dan pelaporan — baik ke BPJS Kesehatan maupun SatuSehat.
FAQ Seputar Cara Kerja SIMRS
Apakah data yang diinput di pendaftaran otomatis muncul di semua unit? Ya, jika SIMRS terintegrasi dengan baik. Data pasien yang diinput satu kali di pendaftaran akan otomatis tersedia di poliklinik, penunjang, farmasi, hingga kasir — tanpa perlu input ulang.
Apa yang terjadi jika pasien BPJS tidak memiliki SEP? SEP (Surat Eligibilitas Pasien) adalah syarat administratif untuk proses klaim BPJS. Tanpa SEP yang tercatat di SIMRS, proses verifikasi dan klaim ke BPJS Kesehatan dapat terhambat.
Apakah semua rumah sakit punya alur SIMRS yang sama persis? Alur intinya (pendaftaran → pelayanan → penunjang → billing) umumnya sama, namun detail modul dan tingkat otomatisasi bisa berbeda tergantung skala rumah sakit dan sistem yang digunakan.
Kesimpulan
Memahami cara kerja SIMRS — dari pendaftaran hingga pembayaran — membantu manajemen rumah sakit menilai apakah sistem yang sedang digunakan sudah cukup terintegrasi, atau justru masih memiliki celah yang menghambat efisiensi pelayanan. Alur yang mulus antar-modul bukan sekadar soal kenyamanan, tapi berdampak langsung pada waktu tunggu pasien, akurasi data, dan kelancaran proses klaim.
Jika rumah sakit Anda sedang mengevaluasi alur SIMRS yang berjalan saat ini atau ingin berkonsultasi soal implementasi yang lebih terintegrasi, tim Parson siap membantu.
Hubungi hotline Parson di 0823-1410-7315 untuk konsultasi gratis seputar SIMRS untuk rumah sakit Anda.
